Jumaat, 26 Ogos 2022

 TADABBUR SURAH YASIN AYAT 76

Ayat sebelum ini telah menerangkan bagaimana Allah SWT mencela sikap manusia yang kufur akan nikmat-Nya, di mana seharusnya mereka bersyukur agar mendapat nikmat tambahan, namun mereka berpaling dan kembali melakukan kemaksiatan dan pelbagai kemungkaran antaranya menyembah selain Allah SWT. Sikap mereka yang demikian, telah menyebabkan  Nabi Muhammad SAW merasa dukacita dan bersedih, inilah yang berlaku kepada Baginda, apabila kita turut sama melakukan maksiat dan enggan mentaati perintah Allah dan Rasulullah SAW. Hal inilah yang akan kita bahas dalam tafsir surah Yasin ayat 76, yakni perihal Allah yang menghibur nabi dikala ia dirundung kesedihan. Berikut Allah berfirman

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ ۘاِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّوْنَ وَمَا يُعْلِنُوْنَ

  1. Maka jangan sampai ucapan mereka membuat engkau (Muhammad) bersedih hati. Sungguh, Kami mengetahui apa yang mereka rahsiakan dan apa yang mereka nyatakan.

فَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْ

Tafsir Al-MuyassarMaka janganlah kamu (wahai rasul) bersedih karena kekafiran mereka kepada Allah, pendustaan  dan penghinaan mereka kepadamu. Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram)orang kafir mengatakan " sungguhnya kamu bukanlah seorang utusan, kamu adalah penyair," Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dan Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, orang kafir itu menegaskan “itu adalah tuhan-tuhan kami, yang menjadi sekutu Allah untuk disembah”, “Sesungguhnya mereka adalah tuhan-tuhan Kami”. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah dalam beribadah. 

Perjalanan dakwah nabi Muhmmad SAW tidak pernah surut dari lika-liku ujian. Baginda sentiasa  mendapat hinaan, baik tentang Allah, ajaran yang Baginda bawa, atau bahkan peribadinya sendiri, hingga kadang-kadang membuatnya bersedih. Di antara tuduhan yang dilemparkan kepada Muhammad SAW, seorang penyair, pendusta, pembohong, gila, bomoh, tukang sihir  dan sebagainya.

Dari pelbagai pendapat ahli tafsir, ungkapan "La Tahzan " dibahagikan kepada beberapa isu. Isu pertama: Nabi Muhammad SAW merasa sedih kerana  kekufuran mereka kepada Allah SWT, kepada kerasulan Baginda dan kepada al-Quran itu sendiri dengan menuduh sebagai penyair, orang gila, malah dicela dan dikeji, dimaki, diletak najis serta pelbagai seksaan dan ancaman kepada Nabi Muhammad SAW serta umat Islam.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW ada seorang yang 'Rahmatan lil A'lamin" sentiasa mencintai umatnya sesuai dengan ayat al-Quran, Surah at-Taubah: 128

لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Artinya: "Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." Dalam firman Allah yang lain ;
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ  bermaksud : " dan tidak Kami utuskan engkau (Wahai Muhammad melainkan untuk (menjadi) rahmat sekelian alam."
Baginda Nabi Muhammad SAW sangat mencintai dan merindui kita umatnya, Baginda sangat risau dan bimbang jika kita mendustakan Allah, dan kerasulannya serta kitab al-Quran dan hadis yang diwariskan oleh Baginda. Baginda sangat takut jika kita membuat maksiat, kemungkaran dan dimasukkan ke dalam neraka, kebimbangan Baginda ini berterusan sehingga Baginda wafat. Marilah kita bersungguh-sungguh mengukuhkan keimanan kepada Baginda dengan terus mempelajari al-Quran dan hadis supaya sampai kepada cinta Rasululah SAW.

Kecintaan Rasululah SAW kepada umatnya, kerinduan Baginda itu dinyatakan di hadapan sahabatnya, dalam satu riwayat daripada Abdullah bin Abbas. Beliau menceritakan, pada satu hari selepas solat Subuh berjemaah, Rasulullah SAW duduk sambil menghadap sahabatnya, satu hadis yang panjang.. sambung Baginda lagi dan kali ini dengan nada penuh kerinduan Baginda bersabda: “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” Baginda SAW mengulangi lafaz itu sebanyak tujuh kali lagi: “Berbahagialah orang yang beriman kepadaku padahal tidak pernah melihatku.” (Hadis Riwayat Imam Ahmad)

Satu lagi riwayat daripada Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersama sahabatnya pergi ke kawasan perkuburan Baqi’ dan bersabda yang bermaksud: “Sejahtera ke atas kamu (penghuni) negeri orang-orang yang beriman. Sesungguhnya kami dengan kehendak Allah akan menyusuli kamu. Amat ingin di hatiku seandainya dapat kita melihat saudara-saudara kita.” Sahabat Baginda bertanya: “Apakah kami ini bukan saudara-saudaramu ya Rasulullah?” Baginda SAW menjawab: “Kamu semua adalah sahabat-sahabatku. Sedangkan saudara-saudara kita adalah (orang-orang Mukmin) yang belum muncul (orang-orang beriman tanpa pernah melihat Rasulullah SAW).” (Hadis Riwayat Muslim, Ibn Majah, an-Nasa’ie dan Imam Malik)

Inilah bukti kecintaan dan kerinduan Nabi Muhammad kepada kita, umat akhir zaman, sebab itu Baginda sangat sedih dan risau sehingga menyebut-yebut umat akhir zaman. Baginda sangat risau jika kita berbuat maksiat dan dosa, melanggar suruhan dan larangan Allah. tetapi Allah SWT sentiasa memujuk hati Baginda agar berserah kepada Allah SWT.

Isu kedua, kalimat " Lah Tahzan"  juga ditujukan kepada Rasulullah SAW dan umat Islam supaya jangan bersedih apabila ditimpa musibah. Rasulullah SAW adalah seorang hamba yang paling hamba di sisi Allah SWT,  hamba yang paling dicintai-Nya, manusia yang paling beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, manusia yang tiada dosa, manusia yang paling ikhlas kerana Allah SWT semata, manusia paling baik akhlaknya, manusia yang paling taat dan sentiasa di sisi Allah SWT, namun Baginda tidak surut dari ujian, ujian yang paling hebat dari segala manusia di muka bumi berbanding kita yang hanya diuji serendah-rendah ujian. Berdasarkan hal keadaan ini, umat Islam telah mempunyai motivator yang paling hebat iaitu Allah SWT, seharusnya umat Islam tidak merasa kecewa, putus asa, rendah diri dan sebaliknya sentiasa memiliki jati diri yang tinggi, kental dan bersemangat waja. Islam itu tinggi dan meninggikan.

Maka dengan itu, Allah Yang Maha Penyayang memberi hiburan kepada Baginda Nabi dan umat Islam dengan memberi dorongan dan motivasi, menguatkan jiwa dan hati, meningkatkan keyakinan dan ketakwaan serta menambahkan kesabaran dan keyakinan serta mengharapkan bantuan Allah SWT. Allah Azza Wajalla memujuk dan menghibur Baginda dan kita semua dengan berfirman-Nya: 

فَلَا يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ   " Maka janglah engkau (Muhammad ) merasa sedih dengan tuduhan mereka" dalam ayat yang lain Allah berfirman  "  لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا" bermaksud " janganlah kamu bersedih, sungguh Allah itu bersama kita"
Allah juga kerap kali menghibur hati Nabi Muhammad SAW apabila Baginda ditimpa kesedihan seperti dalam surah Yunus ayat 65, firmannya:

وَلَا يَحْزُنْكَ قَوْلُهُمْۘ اِنَّ الْعِزَّةَ لِلّٰهِ جَمِيْعًاۗ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dan janganlah engkau (Muhammad) sedih oleh perkataan mereka. Sungguh, kekuasaan itu seluruhnya milik Allah. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

Isu ke-tiga adalah umat Islam adalah manusia yang dijadikan hamba Allah Azza wajalla, sebagai hamba  mestilah menyandarkan segala bentuk kesedihan kepada Allah SWT. Hal inilah yang diterapkan oleh Allah kepada para nabi dan orang-orang soleh.

Sebagaimana al-Qur’an juga mengabadikan kesedihan Ya’qub dalam surah Yusuf ayat 86, Allah berfirman:

قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Dia (Ya'kub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.

Mengutip dari Tafsir Kementerian Agama ayat diatas menceritakan bagaimana Ya’qub bersedih atas  isu kematian Nabi Yusuf A.S. Ia berkata kepada anak-anaknya yang lain,

“Wahai anak-anakku kalian jangan mencercaku, aku tidak pernah mengadu kepadamu sekalian, begitu juga kepada manusia yang lain tentang kesedihan dan kesusahanku. Sebab aku hanya mengadu kesusahan yang menimpaku kepada Allah SWT"

Isu ke-empat yang boleh diambil ialah tidak berlarutan dalam kesedihan. Ini sekaligus menegaskan bahwa kesedihan itu wajar, yang dilarang adalah larut bahkan terbenam dalam kesedihan itu. Oleh karena itu Al-Biqa’i menerangkan bahwa kata yahzunka (يَحْزُنْكَ) dalam ayat ini, dimaknakan dengan tidak larut dalam kesedihan. Dan cara mengurangkan kesedihan tersebut dengan sesegera mungkin mengingati  Allah SWT yang sentiasa bersama.

Dalam kitab Nashaih al-‘Ibad, Imam Nawawi al-Bantani menjelaskan bahwa ada dua kategori kesedihan, ia berkata:

هَمُّ الدُنْيَا بِظُلْمِ القَلْبِ وَهَمُّ الْأَخِرَةِ بِنُوْرِ القَلْبِ

Sedih karena perkara dunia dapat menggelapkan hati, sedangkan sedih karena perkara akhirat dapat menerangkannya (hati)”

Sehubungan itu, apabila kita dirundung sedih dan dukacita jalan penyelesaiannya, perbetulkan hati. Hati merupakan wadah yang lengkap, ia menampung berbagai macam sikap dan perangai serta perasaan manusia, termasuk rasa sedih. Karena itu, apapun bentuk dari kesedihan kita, hendaklah menyandarkannya kepada Sang Pemiliki Hati. Bahkan Allah sangat ingin hamba-Nya berbicara langsung kepada-Nya. Allah berfirman:

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

"Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Mekah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Tiada cara lain untuk mengubati hati yang paling hebat adalah mendekatkan diri kepada Pencipta kita dengan memperbanyakan ibadah, membaca al-Quran, berzikir, beristighfar, berselawat dan sabar serta reda pada kehendak-Nya. Seperti dalam hadith:

مَنْ لَزِمَ الِاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللَهُ لَهُ مِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

"Siapa yang melazimkan beristighfar, maka Allah jadikan baginya jalan keluar atas segala kesulitannya. Allah juga akan memberikan kelapangan atas segala kesempitan dan kesusahannya. Serta memberinya rezeki dari jalan yang tak disangka-sangka." (HR Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Hakim).

Juga dengan mendekat (berteman) pada orang-orang soleh. Sebab, mereka adalah peranan penting yang juga diceritakan al-Quran – seperti dalam QS. Taubah: 40 diatas – untuk menghilangkan kesedihan yang sedang dialami. Disisi lain, juga untuk menilai manakah kawan yang setia bersama, baik dalam keadaan senang maupun susah.

Sebagaimana Abu Bakar yang sentiasa menemani nabi Muhamad SAW, serta mampu menenangkan sahabatnya itu ketika khawatir dengan kejaran orang-orang kafir, disaat yang sama juga sedang bersedih karena diusir dari tempat kelahirannya. Abu Bakar berkata, “jangan bersedih sahabatku, sesungguhnya Allah bersama kita”.

Kepada para pendakwah dan umat Islam, apapun caci maki, cela, hina dan tuduhan, itu adalah adat dunia yang penuh dengan kekotoran, daki dan najis, fitnah dan hasad dengki pasti terkena kepada kita, maka janganlah bersedih, carilah Allah SWT diwaktu malam ketika sunyi sepi, merintih dan merayulah pada-Nya, buangkan semua kesombongan dan keegoan kita, pangkat dan kekayaan, kehebatan dan kecemerlangan, sujud dan merintihlah pada-Nya sebagai hamba abdi kepada-Nya yang telah lama terlupa akan kebesaran-Nya. Allah sentiasa ada untuk setia membantu hamba-hamba-Nya, sedia setiap masa, pada bila masa, kasih sayang Allah dan cinta-Nya tanpa syarat.

Rasulullah SAW bersabda, "Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat keburukan di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat keburukan di malam hari bertaubat. (Ini akan terus berlaku) hingga matahari terbit dari arah Barat" (HR Muslim).

Jom kita berterusan mencari cinta Allah, cinta Allah itu ada di mana-mana, untuk mendapat cinta Allah, kita kena berterusan mencinri cinta Nabi Muhammad SAW kerana cinta Allah akan hadir apabila cinta Nabi ada dalam jiwa kita, untuk itu tindakan pertama adalah mendalami ilmu mengenal Nabi Muhammad SAW dengan mengamalkan sunnahnya kemudian mendalami ilmu makrifatullah, maka akan lahir cinta Allah dan cinta Rasul, apabila segala musibah menimpakan, ia adalah satu nikmat dari Allah untuk kita. Alhamdulilah.

Kesimpulan setiap manusia akan menghadapi pelbagai ujian dan musibah, maka carilah Allah untuk menyelesaikan masalah tersebut. Terdapat banyak  ayat yang  sedemikian yang mengajar manusia menjadi hamba-Nya, sayugialah hamba akan  menyandarkan segala bentuk kesedihan kepada Allah SWT. Hal inilah yang diterapkan oleh Allah kepada para nabi dan orang-orang soleh.

Sekian Terima Kasih. Insya-Allah bertemu lagi..






Sabtu, 20 Ogos 2022

 TAFSIR SURAH YASIN AYAT 74-75

Artikel sebelumnya telah menerangkan bagaimana besarnya nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Salah satunya adalah nikmat haiwan ternakan yang sangat  dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sebahagian mereka  melakukan kufur nikmat, bahkan bertuhankan sesuatu selain Allah. 
Wahbah Az-Zuhaili berkpendapat, berbagai kenikmatan yang diberikan Allah pada manusia sebagaimana yang dihuraikan pada ayat-ayat sebelumnya, hendaknya disyukuri dengan cara hanya menyembah dan mentaati Allah SWT. Namun orang-orang kafir dan musyrik mengingkari kewajiban ini. Mereka kufur nikmat, tetap bertahan dalam kesesatan dan enggan menyembah Allah. Malangnya mereka menyembah sesuatu yang tidak mampu memberikan manfaat maupun mudharat.
Dalam tafsir surat Yasin ayat 74-75 berikut ini Allah SWT mencela hal tersebut:

وَاتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ آلِهَةً لَّعَلَّهُمْ يُنصَرُونَ

لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ وَهُمْ لَهُمْ جُندٌ مُّحْضَرُونَ

Mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah agar mereka mendapatkan pertolongan. Berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka, padahal berhala-berhala itu menjadi tentera yang disiapkan untuk menjaga mereka. (Surah Yasin Ayat 74-75)
Mengikut Ibnu Kathir; Allah SWT. berfirman untuk mengecam sikap orang-orang musyrik yang menjadikan tandingan-tandingan yang disembah-sembah selain Allah SWT. Mereka berbuat demikian dengan tujuan agar sembahan-sembahan  tersebut dapat membantu mereka, memberi mereka rezeki, dan mendekatkan diri mereka kepada Allah SWT. 
Tafsir Jalalain: وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِ ٱللَّهِ (Mereka mengambil selain Allah) selain-Nya ءَالِهَةً (sebagai sesembahan-sesembahan) berhala-berhala yang mereka sembah لَّعَلَّهُمۡ يُنصَرُونَ (agar mereka mendapat pertolongan) terhindar dari azab Allah, karena mendapat syafaat dari tuhan-tuhan sesembahan mereka itu, ini menurut dugaan mereka sendiri.
Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang musyrik menyembah tuhan-tuhan selain Allah dengan harapan agar tuhan-tuhan itu dapat memberikan pertolongan kepada mereka.
Hamka menjelaskan, sesembahan selain Allah ini tidak hanya terbatas pada patung-patung berhala, apalagi di masa sekarang di mana banyak orang yang bertuhankan pelbagai benda. Antara lain batu, kayu, pohon atau gunung tertentu, termasuk kuburan orang yang telah mati. Mereka yang memuja dan meminta pertolongan pada tuhan-tuhan buatan inilah yang dituju oleh ayat ini.
Allah SWT. berfirman:
{لَا يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَهُمْ}
Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. (Yasin: 75)

Ibnu Kathir : Yakni sembahan-sembahan mereka yang selain Allah itu tidak dapat menolong mereka yang menyembahnya, bahkan berhala-berhala itu lebih lemah, lebih hina, lebih rendah, dan lebih kecil; bahkan untuk membela dirinya sendiri dari orang yang bertujuan jahat terhadap dirinya pun tidak mampu. Karena berhala-berhala itu benda mati, tidak dapat mendengar dan tidak dapat berpikir.

Qatadah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. (Yasin: 75) Yakni sembahan-sembahan mereka itu tidak dapat membantu mereka. Padahal berhala-berhala itu menjadi tentera yang disiapkan untuk menjaga mereka. (Yasin: 75) Orang-orang musyrik semasa di dunia mereka marah demi berhala-berhala sesembahan mereka. Padahal berhala-berhala itu tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan pun bagi mereka, tidak dapat pula menolak suatu keburukan pun dari mereka, karena sesungguhnya berhala-berhala itu adalah patung-patung belaka.Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri; pendapat ini baik dan dipilih oleh Ibnu Jarir.

Tafsir Jalalain: لَا يَسۡتَطِيعُونَ (Berhala-berhala itu tidak akan dapat) yakni sesembahan-sesembahan mereka itu tidak dapat menolong. Ungkapan kata berhala memakai jamak untuk orang yang berakal hanyalah sebagai kata kiasan saja, yakni mereka dianggap sebagai makhluk yang berakal نَصۡرَهُمۡ وَهُمۡ لَهُمۡ (menolong mereka padahal berhala-berhala itu) sesembahan-sesembahan mereka itu جُندٌ (menjadi tentara mereka) menurut dugaan mereka, yaitu tentara yang siap menolong mereka مُّحۡضَرُونَ (yang disiapkan) di dalam neraka bersama mereka.

Adapun menurut Nawawi al-Bantani, mereka menyembah selain Allah sebab berkeyakinan bahwa sesembahan tersebut akan mampu menolong mereka dari azab Allah Swt. Keyakinan ini diberitakan pula dalam QS. Yunus: 18 berikut:

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan. Mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka mempersekutukan (itu).
Menurut Hamka, tanpa penegasan Allah pada QS. Yasin ayat 75 itu pun, akal cerdas manusia sebenarnya akan membenarkan pernyataan bahwa tuhan yang dibuat dan dikhayalkan manusia tidak akan sanggup menolongnya sedikitpun. Sebuah perbuatan bodoh atau jahiliah manakala seseorang meminta tolong kepada buah hasil tangannya sendiri.
Firman Allah Swt.:
{وَهُمْ لَهُمْ جُنْدٌ مُحْضَرُونَ}
Padahal berhala-berhala itu menjadi tentera yang disiapkan untuk menjaga mereka. (Yasin: 75)

Mujahid mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah 'di hari penghisaban amal perbuatan, Allah bermaksud menghimpun semua berhala itu kelak di hari kiamat, semuanya dihadirkan saat dilakukan penghisaban terhadap para pengabdinya'. Yang sudah barang tentu hal tersebut dimaksudkan untuk memperberat kesedihan mereka dan merupakan bukti yang lebih akurat menunjukkan kesalahan mereka (yang menyembahnya).

Terkait dengan yang dimaksud “tentara yang dihadirkan” pada ujung ayat ke-75 itu ulama berbeda pendapat. Apakah ungkapan itu merujuk kepada berhala ataukah para penyembahnya.
Menurut Quraish Shihab, ungkapan tersebut merujuk kepada para penyembah yang menjadi seperti tentara bagi sesembahannya. Mereka senantiasa menemani, memberikan persembahan dan melindungi berhala yang mereka anggap sebagai tuhan dari berbagai ancaman. Dapat pula dipahami bahwa sesembahan itu disiapkan sebagai tentara untuk menjaga penyembahnya. Berhala itu dihadirkan di dekat mereka, namun demikian tidak mampu membantu atau membela mereka yang telah menyembahnya. Ketika berada dekat bersama mereka saja tidak mampu, maka apalagi ketika berada di tempat yang jauh.
Adapun menurut Wahbah Az-Zuhaili, berhala itu akan dihadirkan untuk membantu mengazab penyembahnya di hari kiamat, karena kelak berhala merupakan salah satu bahan bakar api neraka. Sementara itu, at-Tabataba’i menyatakan sesembahan didatangkan ketika penyembahnya diazab di neraka untuk menunjukkan ketidakmampuannya menolong mereka. Pendapat lain mengatakan, kelak setiap kaum akan didatangkan apa yang mereka sembah selain Allah ketika di dunia. Mereka diperintahkan mengikuti sesembahan ini menuju neraka sebagaimana layaknya sebuah rombongan tentara.
Ibnu Jarir al-Thabari menerangkan bahwa pada surat Yasin ayat 74, Allah SWT mengecam orang-orang musyrik yang tidak hanya abai terhadap ajaran Islam, tetapi mereka malah menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan dan sesembahan. Padahal Allah SWT menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka. Dalam penjelasan al-Thabari, bahwa orang-orang musyrik berharap berhala itu dapat menolong mereka dari bencana dan azab.
Pada redaksi surat Yasin ayat 75, Allah SWT menegaskan bahwa berhala-berhala itu tidak mampu untuk menolong mereka. Al-Thabari menulis terdapat perbedaan penafsiran terhadap kalimat wahum lahum jundun muhdharuun. Berdasarkan riwayat dari Muhammad bin ‘Amr dari Abu ‘Ashim dari ‘Isa dari al-Harits dari al-Hasan dari Waraqa dari Abu Najih dari Mujahid, yang dimaksud dengan dihadirkan (muhdharuun) pada kalimat tersebut adalah pada Hari Perhitungan (‘inda al-hisab).
Adapun berdasarkan riwayat dari Basyar dari Yazid dari Sa’id dari Qatadah, al-Thabari menuliskan bahwa ayat 75 ini berkaitan dengan kekecewaan orang-orang musyrik terhadap berhala-berhala mereka. Orang-orang ini marah kepada berhala ketika di dunia karena tidak dapat mendatangkan kebaikan maupun tidak bisa menolak kesialan atau bencana yang menimpa mereka. Karena berhala ini hanyalah patung-patung yang tidak bisa berbuat apa pun.

Dalam tafsir al-Wajiz, al-Wahidi menerangkan bahwa yang dimaksud dengan muhdharuun pada ayat 75 adalah berhala-berhala yang disembah orang musyrik ini akan menjadi bahan bakar para penghuni neraka. Artinya berhala-berhala ini akan dihadirkan pula di dalam neraka.
Menurut al-Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf, orang-orang musyrik mengharapkan agar berhala-berhala yang mereka sembah dapat menolong mereka dari segala bentuk marabahaya, tetapi sebaliknya, berhala itu tidak mampu berbuat apa apa. Bahkan kata al-Zamakhsyari berhala-berhala ini akan menjadi bahan baku api di dalam neraka bagi orang-orang musyrik.

Berbeda dengan mufassir-mufassir sebelumnya, Fakhruddin al-Razi menerangkan ayat 74 surat Yasin ini adalah isyarat dan keterangan tentang puncak kesesatan orang-orang musyrik. Mereka diwajibkan untuk beribadah kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan, akan tetapi malah meninggalkan kewajiban itu dan beribadah kepada selain-Nya, yang bahkan tidak memberikan dampak apa pun. Orang-orang musyrik ini malah meminta pertolongan kepada berhala itu, padahal berhala ini tidak mampu menolong. Al-Razi mengutip QS al-Anbiya ayat 68, bahwa berhala ini pada akhirnya akan menjadi bahan bakar bagi para penghuni neraka.

Menurut al-Razi, ayat 75 ini mengisyaratkan bahwa pasca ditetapkannya hukuman bagi orang-orang musyrik, berhala-berhala ini akan dihadirkan di dalam api neraka menyertai para penyembahnya ketika di dunia. Hal ini sesuai dengan keterangan dalam QS al-Anbiya ayat 98. Bahkan ketika Hari Perhitungan, kata al-Razi, sesuai dengan QS al-Shaffat ayat 22-23, berhala-berhala ini akan dihadirkan bersama dengan orang-orang yang zhalim terhadap diri mereka sendiri.

Quraish Shihab dalam tafsirnya berpendapat bahwa kalimat wahum lahum jundun muhdharuun pada ayat 75, dapat dipahami dalam arti ‘padahal mereka’ para penyembah itu menjadi ‘pembela mereka’, berhala-berhala ini. Maksudnya adalah kaum musyrik itu selalu menemani, membantu, dan melindungi tuhan-tuhan berhala itu. Padahal yang mereka sembah itu akan dihadirkan pada Hari Kiamat untuk memeroleh balasan amal-amal mereka.

Kata muhdharuun, menurut Quraish dapat juga berarti dihadirkan di tempat mereka, yakni bahwa berhala-berhala itu tidak jauh dari tempat mereka, bahkan selalu hadir bersama kaum musyrik. Meski demikian, berhala-berhala ini tidak dapat membantu atau membela orang musyrik. Artinya bila dalam keadaan dekat dan hadir pun berhala-berhala itu tidak dapat membela dan membantu apa-apa, apalagi kalau jauh.
Berkaitan dengan pendapat terakhir ini, al-Qurtubi dalam tafsirnya mengutip potongan awal dari sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Muslim dan at-Timidzi sebagai berikut:

 عن  أبي هريرة أن النبي – صلى الله عليه وسلم – قال : يجمع الله الناس يوم القيامة في صعيد واحد ، ثم يطلع عليهم رب العالمين فيقول : ألا ليتبع كل إنسان ما كان يعبد . فيمثل لصاحب الصليب صليبه ، ولصاحب التصاوير تصاويره ، ولصاحب النار ناره ، فيتبعون ما كانوا يعبدون ويبقى المسلمون

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat di satu tanah lapang, kemudian Ia mendatangi mereka dan berfirman; ‘Ingat, setiap manusia mengikuti apa yang pernah disembahnya.’ Lalu penyembah salib diperlihatkan penjelmaan salibnya, penyembah patung diperlihatkan penjelmaan patungnya dan penyembah api diperlihatkan penjelmaan apinya lalu mereka mereka mengikuti yang pernah mereka sembah. Sementara kaum muslimin tetap tinggal.” (HR. at-Tirmidzi no. 2480)

Rabu, 10 Ogos 2022

 CERAMAH MAAL HIJRAH 2022 

Maksud Hijarah dari segi Bahasa: Asal Bahasa Arab haajaro, yuhajiru, muhajaratun wa hijraton, kata dasar :hajaro, yahjuru, hajron bermaksud: meninggalkan, berpalinn memutuskan dan menahan. ( Hijrah Dalam Perspektif Fiqih Islam). Meninggalkan suatu tempat menuju tempat yang lain, boleh jadi negatif atau positif.

Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Fayumi dalam Kamusnya: meninggalkan suatu negeri menuju negeri lain, dalam rangka meningkatkan diri kepada Allah. Syekh Ibnu Atahillah dalm kitab Hikamnya : tentang hijrah

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khattab RA, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Segala amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu kerana kesenangan dunia atau kerana seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu adalah kepada apa yang ditujunya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Manakala dari segi Istilah pula hijrah ialah meninggalkan sesuatu yang dilarang sebagaimana sbda Rasulullah SAW: orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah ( Riwayat Abu Daud)

Ayat-ayat tentang hijrah

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Bermaksud: Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. – (Q.S Al-Baqarah: 218)

Terdapat 11 ayat tentang hijrah, yang menunjukkan kefarduan  kepada kita berhijrah. Hijrah itu terbahagi kepada dua; hijrah bil jasad (hijrah fisik) dan hijrah bil qalbi (hijrah hati). Hijrah bil jasadberarti proses peralihan diri yang tampak secara fisik. Sebagai contoh misalnya ketika seseorang berpindah dari lingkungan yang buruk menuju lingkungan yang baik. Termasuk hijrah secara fisik misalnya ketika seorang wanita yang terbiasa berpakaian minim membuka aurat, kemudian ia memutuskan untuk mengubah penampilan fisiknya dengan mengenakan hijab dan berbusana syar’i.

Sementara hijrah bil qalbi atau hijrah hati adalah proses peralihan diri yang tidak lagi sebatas fisik saja, namun sudah berada pada tataran yang lebih tinggi. Pada fase ini, seseorang sudah masuk pada tahapan terus berusaha istiqamah memantapkan hatinya di jalan Allah SWT.  Inilah inti yang sebenarnya dari proses berhijrah. Karena tidak sedikit orang yang telah berhijrah secara fisik, namun lupa menata hatinya untuk terus mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Hijrah 1 ke Habsyah tahun ke4 kenabian berumur 44 tahun

Seksa yang melampuan membuatkan r memerintahkan umat islm berhijrah ke Habsyah (ethiopia sebuah negeri di afrika, penduduknya beragama nasrani dipimpin oleh Ashimah an-najashi raja yang adil, dlm negaranya tiada seorangpun dizalim (as-sunan al-Kubra)

Hijrah pa ini dertai 11 (10)  lelaki dan 4 (5) perempuan (Nur-Yakin), termasuklah Saidina uthman bin Affan dan isterinya Ruqayyah binti Muhammad dan Ummu Salamah yg akhirnya menjadi Isteri Rasulullah SAW diketuai oleh Utsman bin Mazh’un, selepas 3 bulan mereka kembali ke mekah.

Hrah 2 ke Habsyah tahun ke7 kenabian berumur 46 tahun

Pada tahun ini orang kafir Quraisy menambah seksaan kpd umat Islam, pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Abd Mutalib selama 3 tahun sehingga mereka dilarang berjualbeli, bertegur sapa, berkahwin, umat Islam sangat terseksa kerana kekurangan makanan.mereka makan daun kering dan kulit-kulit kayu untuk hidup. Saidatina khadijah menggunakan semua hartanya ketika ini untuk membantu umat Islam sehingga beliau kehabisan harta, dikatakan harta Saidatina Khadijah sebanyak 2/3 wilayah Mekah adalah milik Saidatina Khadijah tetapi ketika beliau wafat, biliau hanya Namun ketika wafat, tak selembar kafan pun dia miliki. Bahkan baju yang dikenakannya di saat menjelang ajal adalah pakaian kumuh dengan 83 tambalan.  

Kisah Khadijah Menyusui Fatimah (akibat pemboikotan orang kafir Qurais)

Dikisahkan, suatu hari, ketika Rasulullah pulang dari berdakwah, beliau masuk ke dalam rumah. Khadijah menyambut, dan hendak berdiri di depan pintu, kemudian Rasulullah bersabda, “Wahai Khadijah, tetaplah kamu di tempatmu”.

Ketika itu Khadijah sedang menyusui Fatimah yang masih bayi. Saat itu seluruh kekayaan mereka telah habis. Seringkali makanan pun tak punya, sehingga ketika Fatimah menyusu, bukan air susu yang keluar akan tetapi darah. Darahlah yang masuk dalam mulut Fatimah r.a.

Kemudian Rasulullah mengambil Fatimah dari gendongan istrinya, dan diletakkan di tempat tidur. Rasulullah yang lelah sepulang berdakwah dan menghadapi segala caci-maki serta fitnah manusia itu, lalu berbaring di pangkuan Khadijah hingga tertidur.

Ketika itulah Khadijah membelai kepala Rasulullah dengan penuh kelembutan dan rasa sayang. Tak terasa air mata Khadijah menetes di pipi Rasulullah hingga membuat beliau terjaga.

“Wahai Khadijah, mengapa engkau menangis? Adakah engkau menyesal bersuamikan aku?” tanya Rasulullah dengan lembut.

Dahulu engkau wanita bangsawan, engkau mulia, engkau hartawan. Namun hari ini engkau telah dihina orang. Semua orang telah menjauhi dirimu. Seluruh kekayaanmu habis. Adakah engkau menyesal, wahai Khadijah, bersuamikan aku, ?" lanjut Rasulullah tak kuasa melihat istrinya menangis.

“Wahai suamiku, wahai Nabi Allah. Bukan itu yang kutangiskan," jawab Khadijah.

"Dahulu aku memiliki kemuliaan, Kemuliaan itu telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku adalah bangsawan, Kebangsawanan itu juga aku serahkan untuk Allah dan RasulNya. Dahulu aku memiliki harta kekayaan, Seluruh kekayaan itupun telah aku serahkan untuk Allah dan RasulNya”.

"Wahai Rasulullah, sekarang aku tak punya apa-apa lagi. Tetapi engkau masih terus memperjuangkan agama ini. Wahai Rasulullah, sekiranya nanti aku mati sedangkan perjuanganmu belum selesai, sekiranya engkau hendak menyeberangi sebuah lautan, sekiranya engkau hendak menyeberangi sungai namun engkau tidak memperoleh rakit atau pun jembatan, maka galilah lubang kuburku, ambillah tulang-belulangku, jadikanlah sebagai jembatan bagimu untuk menyeberangi sungai itu supaya engkau bisa berjumpa dengan manusia dan melanjutkan dakwahmu”.

"Ingatkan mereka tentang kebesaran Allah, Ingatkan mereka kepada yang hak, Ajak mereka kepada Islam, wahai Rasulullah”.

Rasulullah pun tampak sedih. “Oh Khadijahku sayang, kau meninggalkanku sendirian dalam perjuanganku. Siapa lagi yang akan membantuku?”

“Aku, ya Rasulullah!” sahut Ali bin Abi Thalib. jawab, menantu Rasullulah...

Sesiapa yang menolong akan ditangkap dan diseksa. Ada beberapa percubaan menolong seperti Umar al-Amiri menyeludup gandum, Hakim bin Hazim juga gandum untuk mak saudaranya Sadatina Khadijah tetapi semuanya dihukum,

Ketika ini masih ada Saidatina khadijah dan Abi Talib, bapa saudara yang sentiasa menyokongnya sehingga mengumpulkan pemuda yang membawa besi untuk membunuh orang kafir quraisy lalu mereka berhenti sejenak rancangan membunuh Baginda SAW.

Hijrah kedua ke Habsyah

Akhirnya Rasulullah saw memerintahkan umat Islam berhijrah ke Habsah kali kedua. Disertai 83 orang lelaki dan 11 perempuan (Nur Yakin) diketuai oleh Jaafar bin Abi Tholib. Orang kafir quraisy mengetahuinya lalu menghantar 2 orang wakil untuk memujuk Raja Najasyi agar mengembalikan orang Islam ke Mekah. Raja menolak permintaan tersebut setelah mendengar hujah Jaafar bin Abi Talib “  wahai raja, kami sebelum ini hidup dlm jahiliah, org kuat menindas orang lemah, kamu melupakan hak tetangga, memutuskan tali silaturahim sehingga datang kpd kami seorang lelaki yang kami kenal nasabnya, aklhlaknya, amanahnya, dia mengajak kami masuk Islam, berkata jujur, menyampaikan amanah, menyambung silaturahim dan berbuat baik kpd jiran. Lalu Raja bertanya “ ada apa2 yang engkau bawa, Lalu dibacakan surah Mariam. Raja dan pendetanya masuk Islam

 لَتَجِدَنَّ اَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الْيَهُوْدَ وَالَّذِيْنَ اَشْرَكُوْاۚ وَلَتَجِدَنَّ اَقْرَبَهُمْ مَّوَدَّةً لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوا الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّا نَصٰرٰىۗ ذٰلِكَ بِاَنَّ مِنْهُمْ قِسِّيْسِيْنَ وَرُهْبَانًا وَّاَنَّهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُوْنَ ۔

82. Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan pasti akan kamu dapati orang yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya kami adalah orang Nasrani.” Yang demikian itu karena di antara mereka terdapat para pendeta dan para rahib, (juga) karena mereka tidak menyombongkan diri. Al-Maidah: 82

Tahun ke 10 kenabian umur 49 tahun (Tahun Dukacita)

Pemulauan berakhir tetapi berlaku pula tahun dukacita dimana Rasululah SAw kehilangan bapa saudara yang sentiasa melindunginya iaitu Abi Tholib, 3 bulan kemudian Saidatina khadijah pula wafat, berusia 65 tahun (ada pendapat Saidatina khadijah wafat dulu sebulan kemudian baru Abu Tholib meninggal dunia) seorang isteri yang sentiasa membantu baginda dalam semua hal. Anugerah besar dari Allah untuk Baginda nabi dan umat Islam, menjadi penghibur hati baginda, pemebri semangat, sentiasa menyokong baginda, membela baginda dengan jiwa dan harta. Rasulullah SAW bersabda;

“Dia telah beriman kepadaku ketika manusia tiada beriman, dia membenarkanku ketika manusia mendustakanku, dia membantuku dengan hartanya ketika manusia menahannya, Allah mengurniakanku anak-anak daripadanya, sedangkan Allah tidak memberikannya dari isteriku yang lain (Riwayat Ahmad)

Kecintaan Baginda sangat dalam, ketika sembelih kambing  bahagian pertama yang diambil diberikan kpd sahabat2 khadijah. Baginda mengucapkan “Ini adalah penghormatanku atas jasa-jasa mereka terhadap isteriku yang tercinta”

Ketika Saidatina Khadijah masih hidup Jibril datang kepada Rasulullah dan memberitahu tentang kemuliaan Khadijah di sisi Allah. Kata Jibril, Wahai Rasulullah, inilah Khadijah, dia telah datang dengan membawa lauk pauk, makanan dan minuman. Apabila dia datang kepadamu sampaikan salam Allah kepadanya serta beritahu khabar gembira tentang rumahnya di syurga yang tidak ada bising dan tidak ada banyak menggunakan tenaga di dalamnya ( Bukhari)

Kewafatan Khadijah

“Fatimah putriku, aku yakin ajalku segera tiba,” bisik Khadijah kepada Fatimah sesaat menjelang ajal. “Yang kutakutkan adalah siksa kubur. Tolong mintakan kepada ayahmu, agar beliau memberikan sorbannya yang biasa digunakan menerima wahyu untuk dijadikan kain kafanku. Aku malu dan takut memintanya sendiri”  Mendengar itu Rasulullah Nuhammad Shallallahu alaihi wasallam (S.aw.) berkata, “Wahai Khadijah, Allah menitipkan salam kepadamu, dan telah dipersiapkan tempatmu di surga”. Siti Khadijah, ummul Mukminin (ibu kaum mukmin), pun kemudian menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Rasulullah. Didekapnya sang istri itu dengan perasaan pilu yang teramat sangat. Tumpahlah air mata mulia Rasulullah dan semua orang yang ada di situ.Dalam suasana seperti itu, Malaikat Jibril turun dari langit dengan mengucap salam dan membawa lima kain kafan.

Rasulullah menjawab salam Jibril, kemudian bertanya, “Untuk siapa sajakah kain kafan itu, ya Jibril?

“Kafan ini untuk Khadijah, untuk engkau ya Rasulullah, untuk Fatimah, Ali dan Hasan,” jawab Jibril yang tiba-tiba berhenti berkata, kemudian menangis.

Rasulullah bertanya, “Kenapa, ya Jibril?”

“Cucumu yang satu, Husain, tidak memiliki kafan. Dia akan dibantai, tergeletak tanpa kafan dan tak dimandikan,” jawab Jibril.

Rasulullah berkata di dekat jasad Khadijah, “Wahai Khadijah istriku sayang, demi Allah, aku tak kan pernah mendapatkan istri sepertimu. Pengabdianmu kepada Islam dan diriku sungguh luar biasa. Allah Mahamengetahui semua amalanmu. Semua hartamu kau hibahkan untuk Islam. Kaum muslimin pun ikut menikmatinya. Semua pakaian kaum muslimin dan pakaianku ini juga darimu. Namun begitu, mengapa permohonan terakhirmu kepadaku hanyalah selembar sorban!?”

Tersedu Rasulullah mengenang istrinya semasa hidup.

Dua insan ini banyak sekali membantu baginda dalam menyebarkan Islam. Orang kafir Quraisy tidak berani menyakiti Baginda Nabi kerana menghormati mereka berdua ini.

Sebaik sahaja mereka meninggal dunia, orang kafir quraisy mengambil peluang untuk menyeksa Rasulullah SAw dan umat Islam.

Dalam keadaan dukacita dan kesedihan. Baginda bersama Zaid bin Haritah meneruskan dakwah. Kali ini mereka ke Thoif, 60 batu dari Mekah, mereka berjalan kaki. Tetapi mereka menerima layanan buruk dari , pemimpin mereka menyuruh orang jahat, hamba-hamba dan kanak menghina mencaci dan membaling batu sehingga Baginda berdarah walaupun dilindungi orang Zaid bin Harisah. Baginda berada di Thaif selama 15 malam, mereka pergi ke pasar, ke tempat perkumpulan orang, Baginda mengajak orang masuk Islam tetapi baginda dizalimi oleh penduduk Thoif. Lalu Baginda melarikan diri dan duduk di atas batu lalu berdoa

“ Ya Allah kepada-Mu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku dan kehinaanku pada pandangan manusia, Wahai Yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi. Engkaulah Tuhan untuk orang yang ditindas. Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah aku menyerah diriku ini, kepada orang asing yang akan menyerang aku? Atau  Kepada musuh yang menguasai aku? Sekiranya Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli. Namun afiatmu sudah cukup buatku.Aku berlindung dengan nur zat-Mu yang menerangi segala kegelapan dan teratur di atas nur itu urusan dunia.

Tahun kenabian ke12 (umur 51 tahun)

Perjanjian aqabah 1- penduduk Madinah hantar 12 lelaki ansar dari suku Aus dan Khazraj bertemu Nabi di Aqabah dan berbai’ah di sebut Bai’ah An-Nisa ( Perjanjian tentang perempuan) Lalu Rasulullah SAW menghantar Mus’ab bin Umair untuk berdakwah di Madinah untuk mengajar tentang Islam, solat, dan baca al-Quran antara perjanjiannya:

- tidak menyegutukan Allah

-tidak mencuri

-tidak berzina

-tidak membunuh anak2

-tidak menentang Rasulullah SAw

Hijrah ke 3: Tahun Ke 13 kenabian (umur 52 tahun)

Perjanjian aqabah ke2

73 orang orang lelaki dan 2 perempuan dari kalangan Kabilah Aus dan Khazraj dari Madinah bertemu dengan Rasulullah dan berbai’ah. Baginda ditemani oleh Abbas bin Abdul Mutalib yang belum islam. Baginda melantik 12 orang sebagai naqib (ketua Kumpulan). Islam semakin berkembang.

Hasil dari bai’ah ini, Rasulullah merasai sudah tiba masa umat Islam Mekah berhijrah ke Madinah, mereka mula behijrah secara senyap sedikit demi sedikit untuk mengelak dari diketahui oleh orang quraisy. Orang Islam mekah yang berhijrah menghadapi pelbagai tentangan termasuk meninggalkan semua ahli keluarga yang disayangi juga harta benda seperti Abu Salamah ( anak dan Isteri;  bani saad dan Bani al-Mughirah) dan Suhaib bin ar-Rumi (dibebas setelah semua hartanya diberikan). Berikutnya berhijrah pula segolongan sahabat seperti Umar al-khatab, Tholhah, Hamzah, Zaid, Uthman bin Affan. Yang tinggal hanya, Baginda sendiri, Abu bakar dan Ali tidak berhijrah kerana menunggu arahan dari allah SWT

Mempersaudarakan Muhajirin dan Ansar

Kaum Ansar terdiri dari kabilah Aus Dan Khazraj

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Rasulullah SAW mempersaudarakan 90 orang terdiri dari 45 Muhajirin dan 45 Ansar. Kaum Ansar bersifat itsar ( mendahulukan orang lain dari diri sendiri) manakala Muhajirin mula bersifat  iffah ( menahan diri demi menjaga kemuliaan diri)

Oleh itu didapati Saad bin Ar-Rabi’ menawarkan separuh hartanya kepada Abdul Rahman bin Auf termasuk seorang isterinya tetapi ditolak cuma memohon tolong tunjukkan aku di mana letaknya pasar.