Isnin, 1 Ogos 2022

 TAFSIR SURAH YASIN AYAT 71-73 

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ

وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Maksudnya Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami, lalu mereka menguasainya?”

“Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka; lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan.”

“Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?

Tafsir surah Yasin sebelumnya ayat 68-70 telah berbicara mengenai bantahan terhadap sebagian orang kafir yang menuduh bahwa al-Qur’an merupakan syair yang dikarang oleh Nabi Muhammad Saw. Hal itu merupakan anggapan yang sangat ceroboh dan tidak berdasar serta bersumber dari iri dan dengki.

Sifat iri dan dengki ini yang pada akhirnya mengantarkan mereka pada kekafiran. Mereka lebih memilih menyembah berhala dari pada menyembah Allah yang Esa. Padahal telah banyak anugerah yang Allah limpahkan kepada mereka. Salah satunya adalah nikmat adanya hewan ternak yang tertera dalam surah Yasin ayat 71-73 di atas tadi.

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا خَلَقْنَا لَهُمْ

Dan tidakkah mereka melihat bahwa Kami telah menciptakan untuk kamu‘

Allah SWT menempelak orang kafir Quraiys yang tidak melihat, memerhati, meneliti dan mengkaji tentang ciptaan Allah. Terdapat banyak ayat yang menyuruh kita memerhati, mengkaji, merenong dan melihat alam ini seperti ayat

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Tafsir Jalalain

(Dan sesungguhnya Kami jadikan) Kami ciptakan (untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami ayat-ayat Allah) yakni perkara hak (dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah) yaitu bukti-bukti yang menunjukkan kekuasaan Allah dengan penglihatan yang disertai pemikiran (dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar ayat-ayat Allah) ayat-ayat Allah dan nasihat-nasihat-Nya dengan pendengaran yang disertai pemikiran dan ketaatan (mereka itu sebagai binatang ternak) dalam hal tidak mau mengetahui, melihat dan mendengar (bahkan mereka lebih sesat) dari hewan ternak itu sebab hewan ternak akan mencari hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan ia akan lari dari hal-hal yang membahayakan dirinya tetapi mereka itu berani menyuguhkan dirinya ke dalam neraka dengan menentang (mereka itulah orang-orang yang lalai

مِّمَّا عَمِلَتْ اَيْدِيْنَآ اَنْعَامًا

hewan ternak untuk mereka, yaitu sebagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami

Al-An’am kata dasarnya adalah An’ama, bermaksud unta. Surah al-An’am bermaksud surah binatang ternakan yang ditundukan oleh Allah untuk manusia, tetapi kejahilan manusia di zaman nabi Musa a.s yang menyembah  anak lembu dalam kisah Samiri, sedangkan binatang itu diciptakan untuk kegunaan manusia

Secara tegas Allah memilih diksi an’am (اَنْعَام) yang berarti hewan ternak. Semua mufasir sepakat bahwa yang dimaksud hewan ternak di sini adalah unta, sapi dan kambing. Selain ketiganya ada tambahan lain dalam Tafsir Al Azhar. Tafsir karya Buya Hamka ini membaginya dalam dua jenis.

Pertama jenis hewan ternak yang bisa kendarai dan dimakan, yaitu unta, kerbau, sapi, kibas, dan kambing. Kedua, jenis binatang yang hanya bisa dikendarai yaitu kuda, keledai dan baghal, yaitu hasil kawin silang antara kuda betina dan keledai jantan. Pembagian ini sebagaimana telah tergambar jelas dalam ayat 72 di atas.

Dalam al-Dur al-Mansur, Suyuti mengutip riwayat dari Qatadah yang menyatakan bahwa Allah menjadikan hewan-hewan tersebut tunduk kepada manusia. Ketundukan itu dibuktikan dengan mudahnya menjadikannya sebagai alat pengangkutan.

Saking mudahnya sampai-sampai Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Karim membuat ilustrasinya. Ia mengatakan bahwa seandainya seorang anak kecil mendatangi seekor unta, secara otomastik unta tersebut akan diam dan patuh. Atau seandainya sebuah kereta dengan 100 ekor unta dikusiri oleh seorang anak kecil, 100 unta itu  akan menurut.

Semua nabi menjadi pengembala kambing

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيّاً إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ. كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ

Binatang al-An’am inilah dijadikan binatang korban, sebagaimanan Kisah Nabi Ibrahim dengan anaknya Nabi Ismail untuk menerangkan hukum fiqh, korban yang diterima dan tidak diterima yang disedekahkan kepada asnaf. Iktibar tauhidnya keimanan kepada Allah tanpa syak atau ragu2,  yakin sepenuh hati bahawa Allah itu benar, berserah kepada Allah bulat2, percaya itulah yang terbaik untuk kita

فَهُمْ لَهَا مٰلِكُوْنَ

“lalu mereka menguasainya”

Qatadah mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Dia menjadikan mereka dapat menaklukkannya, sehingga binatang ternak itu jinak bagi mereka dan tidak liar. Bahkan seandainya anak kecil datang mendekatinya (unta), tentulah anak kecil itu dapat membuatnya merundukkan tubuhnya, atau memberdirikannya atau menggiringnya; dan unta itu akan jinak dan mengikuti apa yang dikehendakinya. Begitu pula seandainya sekumpulan ternak unta terdiri dari seratus ekor atau lebih, semuanya berjalan menuruti apa yang diperintahkan oleh si anak kecil itu.

وَذَلَّلْنٰهَا لَهُمْ

Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka;

Secara fitrah, Allah menjadikan sebagian hewan tunduk kepada manusia. Khususnya adalah an’am (اَنْعَام) yang berarti hewan ternak. Itulah nikmat yang dianugerahkan kepada manusia.

فَمِنْهَا رَكُوْبُهُمْ وَمِنْهَا يَأْكُلُوْنَ

lalu sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan sebagian untuk mereka makan.”

kita temui anak-anak kecil yang menjadi pengembala. Lumrahnya mereka mengembala kerbau, sapi, kambing atau domba. Atau kita tahu dalam sebuah perlombaan pacuan kuda, kebanyakan jokinya (baca: penunggang) adalah anak kecil atau orang yang bertubuh ringan.

Terlepas dari pro-kontranya, sisi yang bisa ambil dari hal ini adalah bagaimana kuda pacu yang tenaganya berkali-kali lipat melebihi penunggangnya itu bisa manut dan dikontrol sedemikian rupa.

Ibnu Kathir’ Yakni di antara binatang ternak itu ada yang dapat mereka jadikan tunggangan dan angkutan barang dalam perjalanan mereka menuju ke berbagai daerah. Jika mereka menghendaki, mereka boleh saja menyembelihnya,, lalu memakan dagingnya

Tidak hanya bersifat transportasi, hewan-hewan ternak tersebut mempunyai banyak manfaat selain dikonsumsi dagingnya. Air susu misalnya. Air susu ini bisa dinikmati oleh manusia dan baik untuk kesehatan.

Hal ini dibuktikan dengan banyaknya susu unta, sapi dan kambing yang dijual di pasaran. Seain itu juga membuktikan bahwa hewan-hewan tersebut memang dianugerahkan untuk kebaikan manusia.

وَلَهُمْ فِيْهَا مَنَافِعُ وَمَشَارِبُۗ اَفَلَا يَشْكُرُوْنَ

Dan mereka memperoleh berbagai manfaat dan minuman darinya. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?

Belum selesai di situ saja, diksi manafi’ (مَنَافِعُ) pada ayat 73 menurut Wahbah Zuhaili dalam al-Tafsir al-Munir menyatakan adanya manfaat lain yang bisa diolah oleh manusia. Misalnya dari kulitnya dan juga bulu-bulunya.

Hingga kini kulit dari hewan-hewan tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan hidup. Sebagai busana misalnya. Tentu kita tahu bahwa kulit sapi dan domba lumrah dijadikan sebagai baju, celana, jaket, sepatu, sandal, tas, maupun topi. Berbeda lagi dari sisi pemanfaatan bulunya.

Domba merupakan hewan ternak yang bulunya dijadikan sebagai bahan kain wol. Darinya terbentuk berbagai macam kebutuhan. Untuk kehangatan, bulu domba dapat dijadikan sebagai jaket ataupun selimut. Konon bulu domba juga dapat dijadikan sebagai obat untuk mengatasi ruam pada kulit.

Dari berbagai macam manfaat dari anugerah Allah Swt itu sudah sepantasnya manusia bersyukur. Salah satu bentuk syukur itu adalah meng-EsakanNya. Tidak ada yang bisa menundukkan hewan-hewan yang tenaganya melebihi manusia itu kecuali Allah Swt. namun sayang kebanyakan manusia tidak bersyukur, sebagaiman ungkapan akhir ayat 73 di atas.

Meskipun kalimat terakhir dalam ayat 73 di atas berbentuk istifham (pertanyaan), namun maknanya adalah menetapkan. Ibnu ‘Asyur mengatakan bahwa kalimat tersebut mengindikasikan keheranan atas kebutaan yang dialami orang-orang muysrik waktu itu. Jelas-jelas nikmat itu ada di depan mata tapi mengapa mereka tidak sadar.

Memang pada awalnya surah Yasin ayat 71-73 ini bertujuan untuk menegur orang-orang musyrik pada zaman Nabi Muhammad Swt yang tidak bersyukur atas nikmat Allah. Meski begitu ayat ini masih relevan dengan masa kini dan akan terus relevan selamanya.

Seyogianya kita jangan sampai menjadi pribadi seperti orang-orang musyirik yang tidak tahu berterimakasih itu. Meskipun mereka dianugerahi nikmat berlipat ganda, namun nyatanya tidak berpengaruh sama sekali terhadap pola pikir dan perilakunya.

Padahal mereka sangat tergantung terhadap hewan-hewan ternak, baik sebagai konsumsi maupun transportasi, tapi mereka lebih memilih menyembah berhala daripada menyembah Tuhan yang Esa. Sedangkan berhala-berhala itu tidak bisa berbuat apa-apa sedangkan Allah Swt berkuasa atas segalanya.

Melalui surah Yasin ayat 71-73 ini Allah Swt menegur kita agar senantiasa bersyukur atas nikmat serta mengesakan Allah Swt. Nikmat-nikmat itu Allah gambarkan begitu jelas kepada kita agar kita menjadi pribadi yang selalu bersyukur dan berterimakasih. Sekian penjelasan singkat tafsir Yasin ayat 71-73

Jumaat, 1 April 2022

Istinjak Membersihkan Fizikal, Mental dan Jiwa

 sambungan dari siri terdahulu

11. Tidak memandang najis

Mengikut kitab Fikih Ibadat Madzhab Syafi’i (Syaikh Dr Alaudin Za’tari); makruh memandang ke langit atau ke kemaluannya atau ke sesuatu yang keluar darinya, kecuali atas dasar darurat.

“Jangan memandang ke langit, melihat ke arah kemaluan atau melihat kotoran yang keluar darinya. Makruh bercakap atau bersembang di dalam tandas. (Abu Dawud, Ibnu Majah). Termasuk menjawab salam pun tidak dianjurkan. Menjawabnya cukup dengan isyarat / berdehem. (Muslim, Tirmidzi, Nasa’i)

Berkata Imam Nawawi:

Dan disunatkan atas seorang itu tidak masuk ke dalam tandas dengan tidak menutup kepalanya dan bahawa tidak ia melihat kepada najis yang keluar daripadanya dan tidak melihat kepada kemaluannya.” (Kitab Ar-Raudhah At-Talibin)

 

12. Tidak membawa bahan yang mengandungi nama Allah dan nama Rasulullah SAW

Menurut sebuah riwayat bahawa Anas ra. berkata “Semasa memasuki bilik air, Nabi :saw akan membuka cincinnya”. Semua maklum bahawa cincin Nabi :saw mempunyai ukiran “Muhammad adalah Rasulullah”. Alasannya, kerana tidak sesuai Nama Allah dibawa bersama. Disini menunjukkan dua keadaan :-

a. Kebenaran mengukir Nama Allah ke atas sesuatu objek, misalnya cincin. Menurut Ibn Abi Syaibah, bahawa Hudhaifah dan Abu ‘Ubaidah mempunyai cincin yang diukir “Alhamdulillah”. Ibrahim al-Nakhai pula mempunyai cincin yang diukir “Billah”.

b. Hukum membawa barang seperti itu kedalam bilik air. Mazhab Syafie dan Hanafil tidak menggalakkan membawa objek yang mempunyai Nama Allah, akan tetapi Mazhab Maliki dan Hanbali mengharamkannya. Ibn Qudamah rh berkata, jika seseorang membawa sesuatu objek yang menyebut nama Allah, adalah mustahab (digalakkan) meninggalkan atau menanggalkannya.

Jika dia membawa bersamanya, dan menjaganya baik-baik agar tidak terjatuh, atau memusingkan bahagian yang ada nama Allah mengadap tapak tangannya, maka tidak mengapa. Menurut Imam Ahmad, jika cincin mempunyai nama Allah, hendaklah dipusingkannya mengadap tapak tangan dan kemudian baru ke bilik air. Pandangan ini merupakan pendapat Ibn al-Musayyab, Ibn Sirin, dll. (al-Mughni, 1/109).

Syeikh Atiyar Saqr (syeikhul Azhar) mengatakan bahawa jika dia takut akan cincin (objek) tersebut kehilangan, maka tidaklah menjadi kesalahan membawa ke dalam bilik air.

Perkara penting yang perlu difahami dalam menentukan persoalan ini ialah kita perlu membezakan antara kalimah suci dan ayat-ayat suci al-Quran. Kedua-duanya mempunyai hukum yang berbeza. Jika dilihat kemusykilan yang diutarakan, ianya berkisar persoalan kalimah suci.

Mengenai hukum tentang persoalan yang diutarakan, Ulama mazhab Syafie bersependapat bahawa disunatkan menanggalkan apa yang terdapat padanya sebutan Allah Taala ketika hendak memasuki tandas dan ianya tidak wajib. Ini berdasarkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahawa Rasulullah menanggalkan cincin yang dipakainya kerana tertulis di atasnya perkataan Muhammad Rasulullah.

Imam Ahmad mengatakan : Cincin yang terdapat padanya nama Allah hendaklah digenggam apabila memasuki tandas. Begitu juga dengan pendapat Ikrimah.

Pendapat lain mengatakan membawa sesuatu yang ditulis zikrullah di atasnya ke dalam tandas hukumnya makruh dan bukannya haram. Sama sepertinya iaitu nama rasulnya dan setiap nama yang diagungkan seperti yang disebutkan dalam kitab al-Kifayah sejajar dengan pendapat al-Imam.

Ibn al-Musayyab, al-Hassan al-Basri dan Ibn Sirin (tabi’in) memberikan kelonggaran tentangnya (membawa bahan yang tertulis nama Allah ke tandas) Imam Ahmad memberikan jawapan tentang seorang lelaki yang membawa duit dirham (tertulis zikrullah) masuk ke tandas dengan mengatakan: aku harap ianya tidak mengapa.

 

13. Membersihkan Tangan Selesai beristinja’ kemudian berwuduk

Diriwayat dari Abu Daud r.a dari waki’ :


كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى الْخَلَاءَ أَتَيْتُهُ بِمَاءٍ فِي تَوْرٍ أَوْ رَكْوَةٍ فَاسْتَنْجَى قَالَ أَبُو دَاوُد فِي حَدِيثِ وَكِيعٍ ثُمَّ مَسَحَ يَدَهُ عَلَى الْأَرْضِ ثُمَّ أَتَيْتُهُ بِإِنَاءٍ آخَرَ فَتَوَضَّأَ

"Bahawasanya Nabi SAW jika hendak buang air, maka aku bawakan air dalam bejana atau baldi kecil. Lalu Baginda beristinja’, kemudian menggosokkan tangannya pada tanah. Lalu aku bawakan bejana lain, kemudian baginda berwuduk." (HR. Abu Dawud) juga dalam Ihya’ Ulumuddin.

Membersihkan tangan setelah istinja' ini tidak harus dengan tanah, apabila ada sesuatu yang dapat menggantikannya sebagai penghilang bau seperti sabun atau semisalnya maka tidak mengapa.

14. Keluar bilik air dengan kaki kanan.

Daripada ‘Aisyah RA, berkata: Nabi SAW menyukai melakukan sesuatu daripada sebelah kanan ketika mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci dan dalam setiap amalan yang dilakukannya." (Hadith riwayat al-Bukhari, Sahih Bukhari: No.Hadith : 168).

Matan hadith :

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ.

Al- Imam an-Nawawi dalam kitab beliau, Syarhu Shahih Muslim dan Al-Imam Ibnu Daqiqil ‘Id serta ada beberapa ulama’ lain lagi yang menyebutkan bahawa masuklah tandas dimulai dengan kaki kiri dan keluarlah tandas dengan kaki kanan berdasarkan hadis di atas.

 

15. Doa keluar tandas:

 Doa hendak keluar tandas

غُفْرَا نَكَ الله الَّذِى اَذْهَبَ عَنّى الأذَى وَعَا فَانِى

Aku memohon ampun daripada Engkau, Tuhan yang telah menghilangkan apa yang menyakitkanku dan akan menyihatkanku.

 

PENUTUP

Doa.

Ya Allah terimalah amalan kami ini sebagai amalan soleh, jika ia berpahala, kami hadiahkan pahalanya kepada ibu dan ayah kami, suami atau isteri kami, juga anak-anak kami, ahli keluarga kami, jiran tetangga kami, murid-murid kami, guru-guru kami dan seluruh muslimin dan muslimat. Amin

 

Sekian wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum wrt

Ustazah Dr. Saharizah binti Mohamad Salleh

 

Istinjak Membersih fizikal, Mental dan Jiwa

 sambungan dari siri pertama 

6. Tidak menghadap kiblat (jika di tempat lapang) untuk  menghormati kiblat

Rasulullah SAW bersabda:

إذَا أَتَيْتُمُ الْغَائِطَ فَلَا تَسْتَقْبِلُوا الْقِبْلَةَ وَلَا تَسْتَدْبِرُوهَا وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا. رواه البخاري

“Jika kalian mendatangi tempat pembuangan air (untuk buang air), maka janganlah menghadap kiblat, dan jangan pula membelakanginya saat kencing, mahupun berak.” (HR. Bukhari)

Namun hadis ini berlaku apabila tempat buang air itu tidak ada sutrah atau tabir sebagai pelindung diri dari pandangan manusia, apabila ada tabir atau tutup untuk melindungi diri dari manusia maka tidak mengapa menghadap kiblat.

Sebagaimana hadis Rasulullah :

رَقِيتُ يَوْمًا عَلَى بَيْتِ حَفْصَةَ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَاجَتِهِ مُسْتَقْبِلَ الشَّامِ مُسْتَدْبِرَ الْكَعْبَةِ .رَوَاهُ الْجَمَاعَة

“Aku menginap semalam di rumah Khafshah, maka aku melihat Nabi SAW ketika membuang  hajatnya menghadap ke arah Syam dan membelakangi Ka’abah”. (HR. Jama’ah).

7. Menjaga Badan Dan Pakaian Dari Najis Dan Air Kencing.

Rasulullah SAW bersabda:


قَالَ مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَبْرَيْنِ فَقَالَ أَمَا إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِن بَوْلِهِ
Maksudnya: “Rasulullah SAW pernah melewati dua kuburan dan bersabda: "Sesungguhnya kedua (penghuni)nya tengah diseksa, sedang ia tak diseksa kerana perkara besar (menurut sangkaannya). Bahkan itu (sebenarnya) adalah perkara besar. Adapun salah satu di antaranya, ia melakukan sikap suka mengadu domba. Adapun yang kedua, ia tidak berlindung dari (percikan) air kencingnya." (HR. Muslim)

Berusaha dan berhati-hati serta cermat, teliti ketika buang air besar atau kecil agar tidak terpercik kepada anggota badan dan pakaian. Sekiranya terasa ada percikkan kepada anggota tubuh badan basuhlah, jika terlena pakaian, ketika solat tukarlah supaya kita rasa aman, khusyuk dan reda dengan pertemuan tersebut. Berhati2 itu boleh dibuat dengan mengangkat kain/pakaian tetapi tidak terbuka aurat kemudian membasuh anggota yang berkemungkinan terkena percikan air najis. Amalan ini untuk mengelakkan, jangan sampai merasa perkara yang kelihatannya kecil, tetapi  menjadi sebab kita mendapat azab kubur.

Sunnah mempercepatkan buang air besar dan air kecil, menjaga masa agar tidak berlama-lama di dlam tandas. Ketika najis keluar dari qubul dan dubur, wujudkan rasa syukur atas nikmat kesihatan dan nikmat mampu membuang najis secara normal. Inilah hamba hubungan dengan Allah dan hubungan umat dengan Rasulullah SAW yang sentiasa tidak terpisah. Cuma elakkan dari berzikir dan menyebut nama Allah dan Rasulullah SAW dalam tandas.

8. Istinjak dengan tangan kiri.

Rasulullah SAW bersabda:


كَانَتْ يَدُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْيُمْنَى لِطُهُورِهِ وَطَعَامِهِ وَكَانَتْ يَدُهُ الْيُسْرَى لِخَلَائِهِ وَمَا كَانَ مِنْ أَذًى

"Bahawasanya tangan kanan Rasulullah SAW adalah untuk wuduk dan makannya; dan tangan kirinya untuk ke tandas, dan sesuatu yang kotor." (HR. Abu Dawud ).

Sunnah Rasulullah SAW adalah menjadikan tangan kanan digunakan untuk sesuatu yang baik seperti makan dan minum dan tangan kiri untuk istinja' dan sesuatu yang bersifat kotor. Umat Islam janganlah makan dan minum dengan tangan kiri dan beristinja' dengan tangan kanan. Niatkan di hati, semasa mengambil sesuatu. Aku ikut sunnah Nabi-Mu Ya Allah. Rahmatilah aku. Berusaha menjauhkan diri dari membasuh qubul dan dubur dengan tangan kanan,  demikian juga berusaha mengelak diri dari menggunakan tangan kiri bagi perkara2 baik seperti makan dan minum dengan niat mengikut sunnah Rasullulah SAW.

Ini kerana dengan berfikir berkenaan penciptaan makhluk-makhluk Allah S.W.T dapat membantu seseorang itu untuk menambah keyakinan dan keimanan akan kekuasaan Allah. Ini sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah S.W.T:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Maksudnya: Sesungguhnya pada penciptaan langit-langit dan juga bumi serta pertukaran malam kepada siang, nescaya terdapat padanya tanda-tanda kebesaran Allah bagi golongan ulul albab. Iaitu golongan yang sentiasa mengingati Allah dalam keadaan berdiri, duduk, serta berbaring dan mereka memikirkan kepada penciptaan langit-langit dan juga bumi lalu mengatakan ‘’Wahai Tuhan kami, tidaklah Kau menciptakan kesemuanya ini secara sia-sia, maha suci Kamu maka peliharalah kami dari azab api neraka’’. Surah Aali Imran (191)

Begitu juga firman Allah S.W.T:

وَفِي أَنفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Maksudnya: Dan pada diri kamu, apakah kamu tidak memikirkannya. Surah Al-Dzariyat (28)

Imam Al-Thabari dalam tafsiran beliau ke atas ayat ini berkata: ‘’Pandangan paling tepat dalam menjelaskan makna ayat ini adalah: Pada diri kamu juga wahai umat manusia terdapatnya tanda-tanda kebesaran Allah dan juga ibrah yang menunjukkan kepada kamu akan keesaan Pencipta kamu. Dan sesungguhnya tidak ada Tuhan bagi kamu selain-Nya. Dari sudut tidak ada yang berkuasa menciptakan seperti ciptaan-Nya kepada kamu. Maka apakah kamu tidak merenung secara mendalam akan hal tersebut serta berfikir padanya. Nescaya kamu akan mengetahui hakikat keesaan Tuhan kamu’’. Rujuk Tafsir Al-Thabari (22/419).

9. Istibra’/Berdehem:

Istibra' menurut Mausu'ah al-Fiqhiyah , (3/167) membawa dua maksud:
1. Dalam bahasa arab ialah menuntut kebersihan

2.Dalam fiqh membawa dua maksud:
i) Taharah lelaki ketika buang air khususnya buang air kecil
ii) Taharah rahim pezina dan hamba, supaya rahim mereka benar2 bersih sebelum dapat bernikah atau disetubuhi oleh orang lain.


Menurut Ibnu 'Arafah, istibra' ialah menghilangkan kekotoran daripada kedua-dua tempat keluar najis. Jadi melalui takrifan ini, ulama mazhab Syafie dan Hanbali berpendapat membersihkan air kencing, tahi, mazi, wadi dan mani

Perkataan yang ada hubung kaitnya dengan istibra’ ini ialah istinqa’, istinzah dan istintar. Kesemua perkataan ini membawa makna membersihkan kedua-dua tempat keluar najis daripada apa yang keluar darinya. Sebilangan besar ulama’ Mazhab Syafie dan Hambali mengatakan hukumnaya adalah sunat dengan beralasan bahawa selepas berhenti pengaliran air kencing itu ia tidak akan keluar lagi. Sementara itu ada juga sebahagian ulama’ Mazhab Syafie yang berpendapat bahwa istibra’ itu hukumnya wajib dan inilah juga menjadi pendapat ulama’ Mazhab Hanafi dan Maliki. Mereka yang mengatakan hukum beristibra’ itu wajib berdalilkan dengan hadis ad-Daraquthni yang bermaksud : “Bersihkanlah kemaluan kamu daripada air kencing kerana kebanyakan azab kubur berpunca daripadanya.”

Cara istibra’ bagi lelaki dengan meletakan ibu jari di atas kemaluan dan jari hantu di bawah kemaluan kemudian diurut dari pangkal hingga ke hujung sambil berdehem dengan tujuan semua baki najis dapat keluar manakala bagi wanita memadai berdehem 3 kali untuk memastikan najis keluar dengan sempurna.

Sehubungan ini, semua mazhab bersetuju mengatakan seseorang yang berhadas jika kuat sangkaannya bahawa hadasnya ada yang masih belum habis dan berhenti keluar maka tidak sah wuduknya tanapa beristibra’. Ini bersabdakan kepada kata sepakat para ulama dalam menentukan bahawa suatu hukum itu boleh dibina bersandarkan sangkaan kuat.

Hadis ini disokong dengan kenyataan bahawa jika seseorang itu menyangka atau merasa yakin bahawa mengikut kebiasaannya, jika dia tidak beristibra’ nescaya kan keluar sesuatu lagi daripada kemaluannya maka dia melakukan istibra’. Dalil mereka yang kedua : “Daripada Ibnu Abbas Radhiallahu anhuma dia berkata : “Nabi S.A.W. melalui salah satu tembok daripada tembok-tembok Madinah atau Mekah lalu Baginda mendengar suara dua orang manusia yang sedang diseksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda : Dua orang sedang diseksa dan keduanya tidak diseksa kerana dosa besar.” Kemudian Baginda bersabda: “Ya, yang seorang tidak beristibra’ dengan sebersih-bersihnya daripada kencingnya dan yang seorang lagi berjalan dengan mengadu domba”. Kemudian Baginda minta diambilkan pelepah kurma yang basah lalu dibelah menjadi dua dan Baginda letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan : ‘Wahai Rasulullah, kenapakah engkau perbuat ini?” Baginda bersabda : “Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah pelepah kurma kering atau sehinggalah ia kering.” (Hadis riwayat al-Bukhari)

kencing berdiri hukumnya adalah harus atau makruh mengikut perbezaan ulamak di atas. Namun yang terbaik ialah kencing sambil duduk. Ini ditegaskan oleh Imam Ibnu al-Munzir; “Kencing sambil duduk lebih aku sukai. Namun kencing berdiri hukumnya adalah harus. Kedua-duanya ada dalil dari Nabi s.a.w.”

10. Tidak berkata-kata atau menjawab salam

Hal di atas berdasarkan hadith Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

أَنَّ رَجُلاً مَرَّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَبُوْلُ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْهِ

“Bahawa ada seseorang yang melewati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika baginda sedang buang air kecil, orang itu mengucapkan salam kepadanya, namun baginda tidak menjawabnya.”
(HR. Jama’ah selain Bukhari)

PENUTUP

Doa.

Ya Allah terimalah amalan kami ini sebagai amalan soleh, jika ia berpahala, kami hadiahkan pahalanya kepada ibu dan ayah kami, suami atau isteri kami, juga anak-anak kami, ahli keluarga kami, jiran tetangga kami, murid-murid kami, guru-guru kami dan seluruh muslimin dan muslimat. Amin

 

Sekian wabillahi taufik wal hidayah, wassalamualaikum wrt

Ustazah Dr. Saharizah binti Mohamad Salleh

Ahad, 12 Disember 2021

Bismillahirahmanirrahim, Assalamualaikum semua, jom  kita menambah ilmu tentang sunnah Rasulullah SAW dan mengamalkannya dalam kehidupan seharian supaya kita dapat bersama Baginda di dunia dan akhirat, Amin. Fiqh Wanita: Sunnah Fitrah; Khitan, Cabut bulu ketiak, cukur bulu kemaluan, potong kuku dan  cukur misai. 

Sabtu, 23 Oktober 2021


Assalamualaikum semua, semoga sedikit ilmu yang diberikan oleh Allah ini dapat dimanfaatkan oleh semua orang

Selasa, 12 Oktober 2021

Fiqh Wanita: Takrif fiqh

Bismillahirahmanirrahim, Assalamualikum. Sedikit ilmu dariku tentang takrif Fiqh, kenapa berlaku perselisihan pendapat dalam islam, apa sikap kita dan apa pegangan kita untuk menyelamatkan umat Islam dari perpecahan. Dalami agama agar kita sentiasa dalam reda Allah kerana Islam melihat akhlak dari hati yang suci bersih. Jadilah hamba allah yang takut kepada balsan di akhirat. Amin